Abstrak

Selamat datang di blog.adrianpradana.com

blog ini berisikan opini, IT, dan matematika yang merupakan hobi dari si empunya blog ini

semoga blog ini menambah pengetahuan anda

Di halaman Download, telah ada beberapa buku elektronik berbagai bidang Matematika. Saya usahakan akan menambahnya di waktu kedepan :D

Media Yang Seperti Mata Sauron

Mata Sauron di trilogi Lord Of The Ring

Bagi yang tahu (pernah baca buku atau menonton filmnya) Lord of The Ring, pasti tahu siapa itu Sauron. Sauron adalah penyihir yang jahat karena mampu membuat tentara Orc yang dapat menguasai dunia. Namun Sauron pernah dikalahkan oleh pasukan gabungan manusia dan Elf (film pertama), namun perlahan Sauron bangkit. Cara satu-satunya menghancurkan Sauron dan Mordor adalah dengan menghancurkan cincin tsb di gunung api (Mount Doom). Gunung api besar itu terdapat di jantung Mordor yang berisi ribuan bahkan ratusan ribu Orc. Oleh karena itu sering kita melihat meme di internet

dengarkan apa kata Boromir

Tidak mudah begitu saja untuk masuk ke Mordor dan menghancurkan cincin tersebut. Okelah, lalu apa hubungannya dengan media? Sebelum kesana, bolehlah saya bercerita sedikit, bagaimana awal kehancuran Mordor. Secara simpel dapat saya katakan bahwa Mordor hancur karena Mata Sauron yang salah melihat! Jadi ceritanya gini, setelah Gondor mempunyai raja baru (Aragorn), Aragorn mempunyai inisiatif untuk membawa seluruh pasukannya ke gerbang Mordor sebagai pengalih perhatian karena Aragorn yakin Frodo dan Sam yang membawa cincin itu sudah dekat dengan gunung api. Dengan kata lain, Aragorn ingin memberikan waktu tambahan untuk Frodo dan Sam sebelum Sauron sadar bahwa yang menghancurkannya menjadi berkeping-keping adalah dua hobbit kecil itu, bukan pasukan gabungan manusia dan elf sebanyak gambreng di depan gerbang Mordor.

Media, akhir-akhir ini berperilaku seperti Mata Sauron. Mudah sekali teralihkan perhatiannya. Entah saya sedikit bingung, apakah media yang teralihkan atau rakyat sebagai konsumen media yang teralihkan, tetapi terakhir yang saya tahu, mayoritas dari media kita berorientasi kepada pasar, apa permintaan pasar, itulah yang bakal diliput habis-habisan oleh media untuk menaikkan rating atau oplah. Itulah kenapa berita video porno Ariel + Luna dan Cut Tari lebih seru dibandingkan uang triliunan yang hilang ditelan bumi di bank Century. Media dan masyarakat itu adalah suatu rantai yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Keduanya saling mempengaruhi, media menentukan apa yang nantinya masyarakat ketahui informasinya. Oleh karena itu akan sangat berbahaya sekali kalau media ditunggangi kepentingan pihak tertentu guna memberikan berita bohong, atau menyembunyikan berita besar dengan berita sepele yang dibesar-besarkan sebagai penggantinya.

Yang menarik adalah akhir-akhir ini, Lady Gaga batal konsernya karena desakan kelompok tertentu (tidak perlu saya sebutkan disini). Padahal beritanya simpel, Lady Gaga, penyanyi nyentrik itu ingin manggung, tapi izinnya tidak keluar. Mengenai masalah izin yang dikeluarkan polisi itu atas desakan beberapa kelompok ormas (juga tidak perlu saya sebutkan disini) atau tidak, tetapi yang menarik kenapa berita ini menjadi besar sekali? karena satu, yang dibawa adalah masalah kepercayaan! kelompok tersebut mengatakan bahwa Lady Gaga membawa ajaran setan yang nantinya merusak ajaran agama yang sudah ada disini. Wow, masalah agama, ini adalah masalah sensitif dan dapat menjadi bahan pemberitaan selama berhari-hari.

Akibatnya sudah dapat diketahui akhir-akhir ini. Bagaimana berita langkanya BBM di kalimantan selama berbulan-bulan? Apakah rakyat tahu harga minyak dunia (alasan utama pemerintah atas rencana kenaikan harga BBM) itu turun? Apakah rakyat tahu ada bangunan di Hambalang yang ambruk, dan Hambalang ini yang ikut menyeret beberapa petinggi Demokrat? dan berbagai berita lainnya yang menurut saya lebih penting sekadar ‘Gaga batal konser’.

‘Gaga Batal Konser’ itu beritanya ga jauh beda dengan ‘Slank Batal Konser’ karena tidak diziinkan oleh Polisi. Tapi batal konser tersebut sengaja ditambah dengan bumbu agama, ajaran setan, pornografi, dan berbagai masalah akhlak dan moral yang notabene urusan masing-masing pribadi, maka beritanya akan jadi luar biasa. Lumayan lah untuk menutup berita-berita tadi yang saya sebut diatas. Canggih sekali ya, menutup kebusukan moral politikus dengan teriakan nama Tuhan dan urusan moral/akhlak mulia.

Mari kita kembali lagi ke Lord of The Ring, Sauron adalah sumber kekuatan Mordor. Mata-nya adalah media bagi Sauron untuk melihat apa yang seharusnya ‘diurusi’ atau ‘dibiarkan’. Sauron telah salah memilih mana yang seharusnya diurusi, ia memilih mengurus gerombolan tentara manusia dan elf di gerbang Mordor, hancurlah ia berkeping-keping karena dua hobbit itu masuk begitu saja, tak seperti apa yang Boromir bilang dengan meme diatas (one does not simply walk into Mordor), tetapi dengan sedikit pengalih perhatian, pekerjaan Frodo dan Sam menjadi lebih mudah. Apakah Indonesia nantinya seperti itu? Energi kita dihabiskan oleh kelakuan gerombolan yang tidak penting karena ‘Mata Sauron’ kita selalu menyorot kesana. Padahal langkah-langkah koruptor itulah yang harusnya disorot, agar ‘cincin tersebut tidak dapat dihancurkan begitu saja’

Sedikit Tentang Mortalitas Dalam Asuransi Jiwa

Bagi perusahaan asuransi jiwa (life insurance), mortalitas adalah hal yang sangat penting sekali untuk menentukan berapa premi yang pantas untuk seseorang. Mortalitas disajikan dalam bentuk peluang, iya, peluang seseorang berumur (x) akan meninggal t tahun lagi. Wah kok umur orang bisa dihitung peluangnya? katanya hidup-mati orang tidak ada yang tahu? ini adalah pemahaman yang salah, matematikawan hanya bisa mengukur peluang, angka yang muncul di peluang itu adalah suatu proses ‘mengintip’ masa depan, yang Maha Kuasa lah yang menentukan. Tetapi sebagai manusia, lebih baik dari sekedar mempasrahkan hal ini, setidaknya kita sedikit berusaha dengan kemampuan hehe, ngomong apa saya ini.

Terdapat beberapa model matematika untuk mortalitas manusia ini, yang saya tahu diantaranya Makeham, De Moivre, dan Gompertz. Ketiga hal yang saya sebut sebelumnya adalah ‘formula’ dari manusia yang berumur (x). Dari situ kita bisa tahu berapa peluang seseorang berumur (x) mati atau hidup t tahun lagi. Karena berkaitan dengan peluang, lamanya manusia bertahan hidup ini merupakan suatu peubah acak, sebut saja itu dengan T(x). T(x) ini sifatnya spesial, fungsinya akan berbeda karena bergantung dengan nilai (x). Sebagai ilustrasi, distribusi dari lamanya umur dari orang yang berumur 25 tahun dengan 65 tahun akan berbeda. Orang yang berumur 25 tahun distribusinya lebih menceng ke kanan (diperkirakan masih berpeluang besar untuk dapat hidup sampai umur 60++) sedangkan yang umurnya 65 lebih menceng ke kiri, mungkin ‘saatnya sudah dekat’ :D .

Grafik Peluang Hidup

Model mortalitas yang saya sebut diatas berbentuk suatu formula, namun pada prakteknya perusahaan asuransi lebih suka menggunakan tabel mortalitas. Tabel mortalitas adalah tabel yang berisi peluang orang dapat bertahan hidup atau mati pada umur tertentu. Tabel ini dibuat melalui penelitian dan mungkin hanya berlaku untuk satu negara. Pasti pembaca sangat setuju bahwa mortalitas warga negara antara negara satu dan yang lainnya jelas berbeda. Di Indonesia rata-rata umurnya itu 60 tahun mungkin. Hidup sampai umur 70 tahunan saja sudah alhamdulillah. Tapi bagaimana dengan kawan kita di negara-negara yang sedang konflik seperti Somalia, Palestina, Irak atau negara dengan tingkat kelaparan/persebaran penyakit yg parah. Mungkin saja jarang ditemukan orang berumur panjang.

Tabel mortalitas sebenarnya juga dibangun dari model mortalitas yang saya sebut diatas, Saya pernah mendapatkan tugas untuk memodelkan umur seseorang dengan menggunakan Matlab. Mudah ternyata karena beberapa koefisien penting dari model Gompertz yang kami gunakan sudah diberikan. Sangat menarik apabila saya mencari peluang hidup saya berakhir dalam 1 tahun? 5 tahun? 10 tahun? atau 5 menit lagi? hehe.

Darimana rumus abc itu?

Mungkin bagi sebagian pembaca, topik ini hal sepele dan terlalu mudah. Rumus abc? ck ck ck, siapa yang ga tahu, tapi saya yakin mungkin banyak yang tidak tahu (atau terlupa) itu rumus abc datang darimana. Yang jelas bukan datang dari dunia ghoib. Kalau saya punya persamaan kuadrat ax^2+bx+c=0 dengan a\neq 0, maka saya bisa cari akar dari persamaan kuadrat tersebut dengan rumus abc

x_{1,2}=\dfrac{-b\pm \sqrt{b^2-4ac}}{2a}

Pertama-tama, perhatikan bentuk umum persamaan kuadrat ax^2+bx+c=0 . karena $a\neq 0$ boleh lah ya saya bagi kedua ruas dengan a sehingga menjadi

x^2+\dfrac{b}{a}x+\dfrac{c}{a}=0

dengan teknik melengkapkan kuadrat (atau kuadrat sempurna), saya peroleh

\left(x+\dfrac{b}{2a}\right)^2-\dfrac{b^2}{4a^2}+\dfrac{c}{a}=0

\left(x+\dfrac{b}{2a}\right)^2=\dfrac{b^2}{4a^2}-\dfrac{c}{a}

\left(x+\dfrac{b}{2a}\right)^2=\dfrac{b^2-4ac}{4a^2}

darisini, saya ambil akar dari kedua ruas

\left(x+\dfrac{b}{2a}\right)=\pm\sqrt{\dfrac{b^2-4ac}{4a^2}}

\left(x+\dfrac{b}{2a}\right)=\dfrac{\pm\sqrt{b^2-4ac}}{2a}

x =\dfrac{-b\pm\sqrt{b^2-4ac}}{2a}

ketemu deh rumus abc ini.

Coba perhatikan bagian \sqrt{b^2-4ac}, tidak menutup kemungkinan hasil akar ini bisa bilangan positif, nol, atau bahkan b^2-4ac adalah bilangan negatif sehingga akan bertemu dengan kasus imajiner (bilangan kompleks). Penggolongan inilah yang nantinya disebut diskriminan. Diskriminan didefinisikan sebagai D=b^2-4ac.

Tadi telah saya sebut bahwa kemungkinan dari nilai D adalah tiga, yaitu D>0, D<0, D=0. Jika D>0, hasil dari \sqrt{D} akan berupa suatu bilangan sehingga kita bisa mendapatkan dua buah akar untuk x hal serupa jika kita menemui kasus D<0. Jika D=0 maka bagian \sqrt{b^2-4ac}=0 yang berakibat akar dari x hanya \dfrac{-b}{2a} alias akarnya tunggal.

Negara Sering Bencana, Sudah Saatnya Memanfaatkan Asuransi Bencana

Resiko terbesar Indonesia terletak di daerah cincin api Pasifik, tentunya sering membuat tanah yang kita diami ini “berguncang”. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami. Negara ini rawan bencana sejak dulu kala, bukan karena kerusakan moral, memang karena berada di daerah yang rawan. Untuk itulah kita harus belajar banyak mengenai mitigasi bencana dengan salah satunya penanganan resiko kerusakan bencana secara finansial. Mengapa secara finansial? ya karena itulah yang manusia bisa lakukan dengan kemampuannya karena kita tidak bisa mengganti nyawa yang hilang karena bencana. Yang bisa kita lakukan adalah awareness atau antisipasi terjadinya bencana, mulai dari sebelum terjadinya bencana hingga pasca terjadinya bencana.

Pernah suatu ketika saya mencari bahan untuk tugas akhir saya mengenai catastrophe modelling atau model katastropik, penelitian di bidang ini banyak dilakukan di Jepang, Amerika Serikat, New Zealand, Turki dan beberapa negara lainnya. Jika kita lihat lebih seksama, negara-negara tersebut mempunyai posisi dekat atau berada di atas patahan lempeng bumi. Walaupun secara penggunaan model katastropik tidak hanya digunakan untuk gempa bumi saja tetapi badai, banjir, kebakaran besar bahkan sampai ancaman keamanan oleh teroris. Namun Indonesia bagamaina?

Kerugian finansial yang besar sangat mungkin terjadi jika terdapat suatu daerah yang vital peran ekonominya dan terletak di daerah rawan bencana. Contoh kecil adalah misalnya terdapat suatu pabrik gula. Pabrik tersebut terletak di kaki sebuah gunung berapi yang mungkin sudah lama tidak meletus tetapi masih aktif. Tetap saja ada kemungkinan gunung tersebut meletus (besarnya kemungkinan harus berdasarkan perhitungan ahli vulkanologi). Bagaimana jika seandainya terjadi letusan gunung berapi tersebut? tentu saja pabrik dapat akan musnah dengan seketika. Kalaupun pabrik tidak hancur, akan ada gangguan bisnis karena para buruhnya harus di evakuasi ke tempat yang lebih aman yang berakibat pabrik tidak beroperasi. Inilah yang harus dipikirkan karena dampak ekonomi yang muncul akan dapat membuat efek bencana ini jauh lebih buruk dari hanya sekedar kerusakan infrastruktur.

Sering saya mendengar setiap kali terjadi bencana yang dapat pemerintah lakukan ketika rekonstruksi adalah mengeluarkan uang dari APBN. Bayangkan jika terdapat bencana beruntun (seperti tahun 2006 dimana Gempa bumi Yogyakarta dan bencana Lumpur Lapindo yang terjadi secara berdekatan) nantinya akan terjadi lagi kejadian serupa di masa depan? tentu APBN kita lama-lama akan tekor. Mungkin perlu dikaji lagi apakah negara kita perlu asuransi bencana secara nasional dan menyeluruh sehingga pengeluaran APBN hanya terjadi untuk membayar premi asuransi bencana setiap tahunnya ketimbang mengeluarkan uang dalam jumlah besar ketika bencana terjadi

Bayangkan jika pemerintah memang menganggarkan setiap tahunnya untuk membayar premi asuransi bencana. Jika terjadi suatu bencana, rekonstruksi infrastruktur yang hancur atau rusak akan cepat diperbaiki karena dananya telah tersedia dari asuransi. Walau cara ini tidak menjamin secara sepenuhnya. Sebagai contoh adalah Gempa bumi dan tsunami di Tohoku Jepang tahun 2011 lalu. Sudah setahun sejak bencana, masih ada korban yang belum memiliki rumah karena rumahnya hancur disapu tsunami, padahal kita tahu Jepang mempunyai mekanisme perlindungan finansial terhadap bencana. Bahkan kata seorang teman saya mengatakan kok bisa-bisanya orang Indonesia bisa hidup tanpa asuransi? Tentu kejadian di Jepang akan jauh lebih buruk dampaknya jika pemerintah setempat tidak bersiap-siap menanggung kerugian finansial akibat bencana.

Karena tulisan ini ditulis berdasarkan pengetahuan saya di bidang asuransi bencana yang masih sangat minim, mungkin nantinya terdapat suatu ketidakakuratan mengenai apa yang saya tulis. Mungkin akan terdengar lucu jika saya baca kembali tulisan ini setelah saya magang di sebuah perusahaan re-asuransi yang menangani asuransi gempa. Tetapi itulah ilmu, akan tetap nyangkut kalau ditulis Open-mouthed smile

Angin Ribut atau Angin apa?

Terjadi kemarin, 4 April 2012, antara jam 1 sampai jam 3, saya lupa persisnya karena sedang asik kuliah statistika matematika di GKU Timur lantai atas. Hujan deras sekali, sampai pohon di depan GKU Timur itu menghentak-hentak jendela kelas yang kami gunakan.

Setelah selesai kuliah, hujan sudah reda. Tetapi ketika jalan ada beberapa pohon di ITB yang tumbang. Untungnya bukan pohon tua yang berukuran besar, tapi rata-rata pohon2 yang masih pendek. Salah satunya pohon diantara GKU Timur dengan Labtek VIII, serta pohon di areal sunken court diantara perpustakaan pusat dengan gedung PAU (yang ini ga sempet foto)

IMG_20120404_145022

Sepakbola Bukan Matematika?

Judul tulisan ini lah yang membuat saya tersenyum kalau kalau ada orang yang mengucapkannya. “Sepakbola bukan matematika” sering diucapkan kalau ketika ada tim yang mau bertanding, sang komentator melihat statistik atau histori pertemuan antara dua tim lalu membandingkannya. Jika di statistik tim A dan B, ternyata tim A lebih sering menang daripada B, tentu saja kita bisa berasumsi yang menang di pertandingan selanjutnya adalah A. Tetapi sekali lagi dipatahkan dengan suatu ucapkan “sepakbola bukan matematika”, haha.

Saya sih sadar, ternyata sebagian besar orang indonesia masih beranggapan bahwa ilmu matematika itu hanya sekedar menghitung, sehingga muncullah anggapan matematika sebagai ilmu pasti. 1+1 pasti hasilnya sama dengan 2. Tapi setelah saya kuliah matematika selama hampir 4 tahun di kampus gajah ini, saya semakin bingung sebenarnya matematika itu apa? sains? jelas bukan karena … (bakal panjang dan out of topic kalau saya paparkan disini).

Jelas saya menolak keras kalau mengatakan matematika itu tidak pasti karena dari tingkat 2 sampai detik ini saya belajar ketidakpastian lewat peluang. Iya peluang, hal yang sering dilupakan orang-orang kalau peluang ini juga dipelajari di matematika. Dan tentu saja peluang itu tidak pasti, karena bernilai diantara selang 0 sampai 1 saja, atau beberapa orang sering menyebutnya dengan 0% sampai 100%. Berapa peluang saya mendapatkan angka “5” jika saya melempar dadu?, seperti itulah.

Begitu juga dengan sepakbola. sangat tidak tepat jika mengatakan sepakbola itu bukan matematika karena masih relevan kok sepakbola itu ternyata memang matematika. Jika contoh kasus yang saya paparkan diatas itu diteliti secara peluang, dan mengambil contoh yang sangat sederhana sekali dengan hanya melihat data statistik berapa frekuensi tim A atau tim B yang menang ketika kedua tim itu bertemu, kita bisa tahu peluang tim A menang itu berapa, peluang tim B menang berapa. Namanya juga peluang, hal yang tidak pasti. Jika peluang saya salah ketik di tulisan ini adalah 0.05, kecil memang karena saya pengetik yang baik, tapi kecilnya 0.05 itu bisa saja terjadi kan?

Karena kita hanya mengambil variabel “menang-kalah”, tentu hasilnya tidak bisa dipertanggung jawabkan karena variabel lainnya seperti kualitas pemain, main kandang atau tandang, mental pemain, bahkan sampai kondisi lapangan ikut berpengaruh ke menang atau tidaknya suatu tim. Dan jelas, model peluang jika mengikutkan seluruh variabel itu sangat rumit jika dikaji, tapi memungkinkan untuk dilakukan.

Kesimpulannya, berhentilah mengatakan “sepakbola itu bukan matematika”, sekarang beralihlah ke “sepakbola itu memang matematika”.

Mendaki Gunung Burangrang PP

Sebelumnya saya ceritakan dulu mengenai gunung Burangrang. Gunung ini terletak di sebelah utara dari kota Bandung. Bersebelahan dengan gunung Tangkuban Perahu yang berada di sebelah timurnya. Mempunyai ketinggian 2064 meter diatas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung purba. Saya kurang tahu kenapa disebut gunung purba, mungkin karena gunung ini sudah ada dari jaman prasejarah #ngasal.

Untuk dapat mencapai gunung ini, dari kota Bandung kita dapat mengambil angkutan umum ke arah Ledeng, lalu tinggal nyebrang dari terminal Ledeng ada angkot putih jurusan Ledeng – Parongpong. Parongpong adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat. Dari sini, dengan melihat ke arah utara kita sudah dapat betapa gagahnya gunung Burangrang di sebelah kiri dan gunung Tangkuban Perahu di sebelah kanannya. Biasanya puncak Burangrang tertutup oleh kabut.

Sedangkan untuk mendaki ke puncaknya, yang saya tahu terdapat 2 jalur pendakian yaitu pertama melewati gerbang Komando dan kedua melewati jalur legok haji. Disebut jalur komando mungkin karena jalur ini melewati daerah latihan Kopassus, sehingga untuk dapat naik ke gunung kita harus lapor dulu di pos pintu angin, sekitar 20 menit berjalan kaki dari gapura bertuliskan “KOMANDO” di sisi jalan raya Parongpong – Cisarua. Jalur ini sangat terkenal di kalangan pendaki pemula (mungkin) karena mempunyai trek yang lebih landai dan pemandangan yang lebih memukau dibandingkan jalur legok haji yang lebih curam dan hanya melewati rimbunan hutan saja.

Hari Sabtu, 14 Januari 2012, saya berdua dengan teman saya Rifqi FI09 mendaki gunung ini secara PP (pulang pergi tanpa camping). Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB jam 7 naik angkot Cicaheum – Ledeng, lalu lanjut dengan angkot Ledeng – Parongpong yang ngetemnya super lama itu. Kira2 sampai di gerbang komando sekitar pukul 9 kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pos pintu angin kira2 20 menit menuju utara. Disana kami beristirahat sebentar sembari minta izin ke Burangrang oleh seorang anggota Kopassus. Dari pos itu terdapat dua jalur yaitu ke kanan dan ke kiri. Jalur kanan adalah jalur menuju Situ Lembang dan ke kiri jalur menuju puncak Burangrang.

Tepat setengah 10 kami mulai mendaki. Trek benar2 landai dan masih santai tidak terlalu menguras tenaga. Pemandangan yang dapat dinikmati adalah hutan pinus dan kokohnya Burangrang di sebelah kiri jalan. Kira-kira 10-15 menit melewati hutan pinus, vegetasi mulai berubah menjadi semak-semak lalu mulai memasuki hutan. Di dalam hutan trek masih landai dengan sesekali ada tanjakan. Karena malamnya hujan, tanjakan ini menjadi arena “perosotan” bagi kami berdua yang tidak memakai sepatu khusus trekking, malah Rifqi memakai sepatu futsal.

Makin keatas, hutan semakin padat dan sesekali jalan setapak dihalangi oleh pohon yang tumbang. Perpaduan gerakan mendaki dan merunduk menjadi sebuah kelaziman. Kira-kira setelah berjalan 1 jam, hutan semakin rimbun dan semakin basah karena kabut. Jalan setapak ini dibuat di punggungan sehingga di sebelah kiri dan kanan jalan dapat berupa jurang atau memiliki tanah yang lebih rendah. Waspadai jalanan yang licin yang mungkin saja dapat membuat kita terperosok. Setelah jalan 2 jam-an, di sebelah kanan dapat terlihat jelas (jika tidak ada kabut) pemandangan cekungan antara gunung Tangkuban Perahu dan Situ Lembang, indah sekali, sayang waktu itu kami berdua tidak membawa kamera sehingga perjalanan ini tidak ada dokumentasinya. Jika pembaca penasaran silahkan di googling saja fotonya, saya kira pemandangan ini adalah pemandangan favourite dan unik ketika mendaki Burangrang lewat jalur Komando.

Kabut juga sering turun di tempat yang tinggi ini. Kadang juga disertai oleh gerimis, sehingga wajib bawa jas hujan atau minimal jaket yang tahan air. Ketika mendekati puncak, vegetasi mulai berubah menjadi tumbuhan paku setinggi pinggang. Ada beberapa tanjakan curam sebelum sampai di puncak. Tanjakan ini berupa campuran batu dan tanah liat yang akan sangat licin jika hujan.

Kurang lebih pukul 12 siang kami telah sampai di puncak Burangrang. Pertanda anda sudah mencapai puncak adalah tugu triangulasi yang menandakan anda berada di ketinggian 2064 mdpl. Sayang masih ada saja vandalisme di tugu ini. Banyak coretan dan bahkan “relief-relief” nama diukir disana! Dari puncak Burangrang kita dapat melihat pemandangan kota Bandung di arah Tenggara (jika tidak tertutup kabut). Kota Bandung bagai kota yang digelar di dasar mangkok pegunungan yang mengelilinginya. Percayalah bahwa Bandung itu berada di cekungan dan dikelilingi oleh gunung-gunung. Melihat ke sedikit arah timur, ada gunung Manglayang yang menjadi target pendakian saya selanjutnya.

Kira-kira hanya setengah jam kami keatas, karena kabut mulai tebal dan hujan mulai turun, kami memutuskan untuk turun. Tapi kami tidak melalui jalur yang sama dengan berangkat, kami melalui jalur lain yaitu jalur legok haji yang langsung mengarah ke selatan dari puncak. Dan jalur ini curam. Bahkan ditengah jalan akan sering kita temui turunan yang membuat kita sedikit lompat karena tinggi sekali. Karena malamnya hujan, jalur ini sangat licin sekali. Saya berkali-kali terpeleset dan jatuh. Malah yang lebih parah saya sekali terpeleset jatuh terduduk, lalu meluncur ke bawah dan terguling-guling. Untung tidak ada luka yang berarti, hanya lecet-lecet sedikit. Saya perkirakan saya meluncur dari ketinggian kira-kira 2 meter.

Turunan yang curam ini akan terus ada hingga kami melewati 2 “terowongan” yang sebenarnya adalah tumbuhan yang membentuk terowongan. Jika vegetasi berubah dari hutan hujan menjadi semak-semak, anda sudah dekat dengan tepi hutan. Kira-kira setelah berjalan 2 jam 15 menit kami sudah keluar dari hutan. Kini kiri-kanan jalanan adalah padang rumput. Saya lihat ke belakang gunung Burangrang sangat kokoh dengan kabut di puncaknya. Jalur masih turun kebawah, lama-lama akan melewati perkebunan milik warga lalu akan berujung ke jalan beraspal suatu kampung (saya tidak tahu nama kampungnya). Dari jalanan kampung menuju jalan utama Parongpong Cisarua ternyata masih jauh. Beruntung kami mendapat tumpangan motor oleh penduduk setempat yang mau ke pertigaan SPN Cisarua. Disana kami naik angkot ke arah Parongpong, lanjut Ledeng dan pulang.

Mungkin ada beberapa tips dari saya

1. pastikan bawa air yang cukup. Selama diperjalanan mendaki saya tidak melihat sumber air

2. jangan lupa memakai sepatu trekking yang mempunyai sol yang tidak licin dan kasar

3. hati-hati tanaman berduri, banyak sekali di jalur legok. mungkin jika kita membawa golok akan sangat membantu

Hiking Parongpong – Tangkuban Perahu

Hiking ini dimulai dari kebun teh Sukawana, Parongpong. Saya berangkat berdua dengan teman saya, Eve. Karena perjalanan ini cukup cepat (hanya berkisar 3-4 jam saja), jadi saya tidak membawa perlengkapan yang terlalu lengkap, hanya bawa air minum 1,5 liter dan makanan kecil untuk ngemil di jalan. Kami berangkat dari pos Polisi Gandok Ciumbeleuit kemudian naik angkot ke Ledeng. Setelah disana kami menyebrang ke jalan Sersan Bajuri dan naik angkot putih Ledeng – Parongpong. Ngetemnya cukup lama, kira-kira setengah jam. Sekitar 8.30 kami sampai di gerbang menuju kebun teh Sukawana.

Kebun Teh Sukawana - Ikuti saja tiang listriknya

Dari pinggir jalan menuju kebun teh Sukawana hanya perlu 10 menitan, kebun tehnya cukup luas dan jalannya berbatu. Disana kami berhenti dulu di warung karena Eve belum sarapan. kata pemilik warung jalur yang mudah itu ikuti saja kabel listrik ke arah utara hingga habis, kemudian masuk hutan dan nanti ketemu jalan berbatu. Oke kita ikutin aja itu tiang listrik lewat kebun teh. Kira-kira 40 menit kami mencapai ke ujung kebun teh Sukawana yang berbatasan langsung dengan hutan. Iya memakan waktu 40 menit karena kami beberapa kali berhenti untuk berfoto-foto, hehe :D . Setelah tiang listrik habis, kami merayap masuk hutan karena banyak semak-semak menutupi jalan setapak sehingga beberapa kali kami harus sedikit menunduk (mungkin yang badannya pendek bisa tinggal jalan aja ya hehe). Hutannya benar-benar lembab dan jalanannya agak basah, jadi hati-hati bisa terpeleset.

Hutan Setalah Kebun Teh

Kira-kira 10-20 menit masuk hutan yang rimbun itu, kami menemukan jalan berbatu, persis dengan perkataan bapak pemilik warung di kebun Teh Sukawana tadi. Akhirnya kami ke arah kiri dimana jalanan mulai menanjak tapi landai. Jalanan inilah yang nantinya akan menuju ke tower (entah tower apa itu saya kurang tahu). Perjalanan dari mulai ketemu jalan berbatu sampai tower memakan waktu kira2 satu jam, saya kurang tahu persis berapa jarak yang ditempuh karena saya benar-benar blank jalurnya. Jalanan itu sepi sekali, sesekali kami bertemu dengan penduduk sekitar yang mengambil rumput dan berburu (membawa senapan angin). Setelah sampai di tower yang berada di kiri jalan, kami mulai masuk ke jalan setapak hutan dengan berbelok sedikit ke kanan. Disana mulai berkabut, lumayan tebal dan dingin.

Jalanan setapak ini cukup sempit dan banyak sarang laba-labanya. Untung saya mengambil tongkat kayu di sepanjang jalanan berbatu tadi. Sehingga layaknya pemain aikido, posisi tongkat itu saya pegang layaknya memegang pegang untuk menyapu sarang laba-laba yang menghalangi jalan karena tidak enak sekali kalau kena muka :( . Beberapa kali kami menemukan trek berlumpur dan becek karena disini kabut sangat tebal. Kira-kira satu jam-an kami sampai di tower penelitian petir ITB. Disana ada persimpangan yaitu lurus menuju parkiran Tangkuban Perahu dan kiri adalah kawah. Kami mengira bahwa mengambil jalur kiri dapat sekalian ke arah parkiran dengan menyusuri pinggiran kawah, ternyata tidak. Jalur kiri banyak sekali turunan curam dan sedikit tanjakan. Dan benar saja, kawah adalah benar-benar pinggir kawah dan jalan buntu, tidak ada jalan lagi. Saat itu kawah sedang diselubungi kabut sehingga kami tidak dapat melihat apa-apa disana, hanya jurang menganga dan kabut dibawahnya serta bau belerang dan suara uap kawah dari bawah.

Kembali ke persimpangan menara petir inilah yang berat. Berat karena tanjakan dan cuaca mulai hujan deras. Beberapa kali kami hampir terpeleset karena jalanan licin. Setelah sampai kembali di menara petir, kami berteduh dulu di sebuah pos mirip pangkalan ojek cuman tidak ada motor disana. Setelah hujan reda, kami berangkat lagi mengambil jalur ke parkiran Tangkuban Perahu. Keadannya jalurnya tidak terlalu berbeda dengan jalan batu ke menara petir. Sempit, becek dan banyak sarang laba-laba. Makin jauh kami berjalan, makin terdengar bunyi bising mobil-mobil dan suara orang, pertanda bahwa kami semakin dekat. Kami sampai di bagian selatan dari parkiran setelah susah payah menuruni turunan berbatu dengan tanah liat yang licin karena hujan (disana juga sedang hujan berangin). Hujan berangin, kami membuka payung, ide yang sangat buruk sekali karena angin disini sangat kencang.

Setelah sampai ke “peradaban manusia”, kami beristirahat sambil mengeringkan baju. Makan siomay haha. Ada hal lucu, orang2 disini pada masih cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Kita berdua sampai disini dengan sepatu kotor karena becek, tampang lusuh karena lelah, dan baju basah.

Kami pulang dengan naik angkot menuju lembang, lalu lanjut lagi dengan angkot Lembang – ST Hall. Kami turun di pertigaan deket jalan Ciumbeleuit.

kalau tidak hujan, sepertinya kami akan kembali lewat jalur hutan hehe

selanjutnya gunung Burangrang. Rencananya minggu ini :D

Pagi

Terpaan sinar matahari yang mulai turun dari waktu ke waktu

semakin bertambah detik dan menit, kau semakin terlihat menyala

burung-burung bersahutan, seakan rapat untuk mau mencari makan dimana

seekor kucing yang sedang bermalas-malasan

seorang bapak yang sedang menyapu sampah di pinggiran jalan

ketika kopi mulai diseduh, minuman pemerkaya jiwa, pembuat semangat

ketika bunyi decit pintu menandakan bahwa bisnis dimulai

siswa sekolah yang mengantri angkot

bapak polisi yang memulai bunyi sempritan pertama mereka

Berbagai Quote dari Howard Wolowitz

Quote ini saya kumpulkan dari berbagai sumber di internet, hanya saya ambil yang kira-kira lucu atau menggelikan menurut saya.

Bagi yang belum tahu siapa itu Howard Wolowitz, mungkin bisa mulai menonton serial The Big Bang Theory, sekarang ongoing di season 5.

berikut quote dari Howard :

  • i want to be your derivative, so i can lay tangent to your curves
  • why don’t we go back to my place, so i can show you the exponential growth of my natural log
  • i’m like pi baby, i’m really long and i go on forever
  • if i was an endoplasmic reticulum, how would you want me : smooth or rough?
  • it’s not the length of the vector that counts, it’s how you apply the force
  • i wish i was your differential equation homework, because then i’d be really hard and you’d be doing me on your desk
  • you must be the square root of two, cause i feel irrational around you
  • let’s take each other to limit, and see if we converge
  • hey girl, do you love water? that means you love 80% of me
  • are you a 90 degree angle? cause you lookin right
  • what do you say we go back to my room and do some math? add a bed, subtract our clothes, divide your legs and multiply
  • you must be auxin, cause you are causing me to have rapid stem elongation
  • i might not be as efficient as carnot, but that just means our equipment will be that much hotter
  • if i could rearrange the periodic table, i would put "U" and "I" together
  • if i increase my current, will that decrease your resistance?
  • baby, let’s be chemist and do it on the table, periodically
  • i have mass, you have mass, there’s attraction between us
  • 4 girls with fake boobs? silica tetrahedron
  • my name? Bond, Covalent Bond
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 270 pengikut lainnya.