Kabar Gembira

Originally posted on Padepokan Budi Rahardjo:

Ada kabar gembira untuk Anda sekalian. Bukan, bukan ekstrak kulit manggis tetapi anak-anak muda Indonesia berkarya!

Salah satu karya yang sedang ramai diperbincangkan adalah karya kumpulan anak muda, yang dimotori oleh Ainun dan kawan-kawannya, kawalpemilu.org. Ini adalah situs yang mengambil data form C1 dari situs KPU dan melakukan konversi dari gambar hasil scan menjadi angka dan melakukan operasi penjumlahan hasil pilpres. Ini merupakan sebuah implementasi nyata dari open data, open government, dan memberdayakan warga (empowering people). Keren sekali.

Hal-hal seperti ini yang membuat saya kembali yakin akan masa depan Indonesia yang cerah. Hebat.

Untuk anak-anak muda seperti Ainun dan kawan-kawan, semoga tidak menjadi lupa diri, sombong, arogan, merasa serba tahu, dan sejenisnya. Tetap gunakan ilmu padi. Oh ya, jangan keseringan masuk berita juga sih. hi hi hi. Keep low profile. I know it’s hard to say no to all the spotlights, but you have to say no…

View original 110 more words

Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

Originally posted on Rumah Filsafat:

amazonaws.com

amazonaws.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.

Namun, kaum ini sering disusupi oleh kaum lainnya, yakni kaum in-“telek”-tual. Telek berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kotoran atau “tai”. Mereka berpakaian dan bersikap seperti kaum intelektual. Namun, mereka justru meracuni masyarakat dengan ide-ide jahat, dan justru memecah belah serta menciptakan pertikaian. Pikiran dan isi tulisan maupun kata-kata mereka bagaikan kotoran bagi kehidupan bersama.

Kita seringkali sulit membedakan kaum intelektual dan kaum in-“telek”-tual. Apa ciri-ciri dari kaum in-“telek”-tual ini? Bagaimana kita membedakan mereka? Bagaimana supaya kita tidak tertipu oleh kaum in-“

View original 448 more words

Tentang Ibn al-Haytam dan Cara Berpikir

Saya penonton setia serial Cosmos. Saya selalu hadir di depan televisi setiap jam 9 malam di saluran National Geographic. Saat itu episode 5 yang bertajuk Hiding in The Light. Menceritakan seluk beluk tentang cahaya, dan mereka-mereka yang berjasa di bidang optik tersebut. Dimulai dari manusia goa yang takjub akan cahaya api, penemuan camera obscura oleh kebudayaan Tiongkok dan Arab. Ibn al-Haytam (Ibn al Hazen), Galileo Galilei, Isaac Newton, hingga temuan Joseph von Fraunhofer yang melahirkan bidang baru yaitu astrofisika.

Ibn al Hazen

Ibn al Hazen

Diantara nama-nama di atas, yang menarik perhatian saya adalah Ibn al-Haytam. Saya sudah lama mendengar nama ini. Kira-kira sejak SMA ketika saya membaca buku terbitan Republika. Saya hanya mengetahui bahwa beliau adalah salah satu saintis di bidang fisika optik saat zaman kejayaan Islam. Itulah yang sering saya baca dan kebetulan sangat dibanggakan teman-teman saya. Sayang, hal tersebut bagi saya tak terlalu spesial jika didengar. Kalau memang Ibn al-Haytam muslim, so what? Toh banyak “ilmuwan non-muslim” yang lebih membuat saya tertarik karena karya-karyanya. Tidak sekedar hanya ilmuwan tersebut beragama tertentu. Apalagi kebanyakan tak bisa jelaskan apa yang membuat ilmuwan muslim tersebut hebat.

Setelah menonton Cosmos A Spacetime Odyssey episode Hiding in The Light, akhirnya saya mengakui bahwa temuan Ibn al-Haytam itu sangat luar biasa. Bukan temuan camera obscura atau hal yang terkait fisika optik lain yang mampu membuat khalifah saat itu terobsesi dengan sains lalu banyak memberikan dana kepada ilmuwan-ilmuwan Islam, tetapi fondasi sains yang diajarkan oleh Ibn al-Haytam lah yang membuat saya terpana

Menurut Cosmos, Ibn al-Haytam membuat fondasi dasar berpikir ilmiah. Berikut kutipannya :

 Ibn al-Hazen was the first person ever to set down the rules of science.

He created an error-correcting mechanism, a systematic and relentless way to shift out misconceptions in our thinking. Finding truth is difficult and the road to it is rough. As seekers after truth, you will be wise to withhold judgment and not simply put your trust in the writings of the ancients. You must question and critically examine those writings from every side.

You must submit only to argument and experiment and not to the sayings of any person. For every human being is vulnerable to all kinds of imperfection. As seekers after truth, we must also suspect and question our own ideas as we perform our investigations, to avoid falling into prejudice or careless thinking.

Take this course, and truth will be revealed to you.

This is the method of science.

Ketika saya menonton bagian ini, mata saya berkaca-kaca. Selain mengingat bahwa saya sendiri masih sering melakukan kesalahan berpikir, saya juga membayangkan apa yang terjadi jika kita semua mempunyai kemampuan tersebut. Terus terang, kekurangan inilah yang membuat kita terbelakang saat ini. Kita lebih percaya kepada gosip, rumor, atau semacamnya tanpa menguji kebenarannya. Apalagi di era informasi di mana informasi membanjir dengan hebatnya. Kemampuan seperti di atas lah yang mampu menjadi pelindung kita agar tak mudah terjebak oleh kesalahan berpikir.

Only a few centuries ago, a mere second of cosmic time we knew nothing of where or when we were Oblivious to the rest of the cosmos, we inhabited a kind of prison a tiny universe bounded by a nutshell.  How did we escape from the prison?

It was the work of generations of searchers who took five simple rules to heart. Question authority.  No idea is true just because someone says so, including me. Think for yourself. Question yourself. Don’t believe anything just because you want to. Believing something doesn’t make it so. Test ideas by the evidence gained from observation and experiment. If a favorite idea fails a well-designed test, it’s wrong! Get over it.

Follow the evidence, wherever it leads. If you have no evidence, reserve judgment. And perhaps the most important rule of all. Remember, you could be wrong. Even the best scientists have been wrong out some things. Newton, Einstein, and every other great scientist in history, they all made mistakes. Of course they did, they were human.

Science is a way to keep from fooling ourselves and each other. Have scientists known sin? Of course. We have misused science, every other tool at our disposal, and that’s why we can’t afford to leave it in the hands of a powerful few. The more science belongs to all of us, the less likely it is to be misused. These values undermine the appeals of fanaticism and ignorance.

- Neil deGrasse Tyson. Cosmos A SpaceTime Odyssey, Episode Unafraid of The Dark

Selamat Malam :)

Abraham Wald dan Survivorship Bias

Abraham Wald (1902 – 1950) adalah seorang matematikawan kelahiran Cluj, Austria-Hungaria (sekarang Rumania). Ketika dia menyelesaikan studinya di 1930an, saat itu Austria sedang krisis ekonomi yang menyebabkan ia kesulitan direkrut menjadi Professor di sana. Pada akhirnya dia ditawarkan karir profesor statistik di Columbia University, New York. Saat itu bersamaan dengan berkuasanya Nazi di Austria. Wald merupakan salah satu manusia jenius eropa berketurunan Yahudi yang menyingkir ke Amerika Serikat karena Nazi berkuasa.

Abraham Wald (foto: Wikipedia)

Pada saat itu sedang Perang Dunia ke 2. Wald ditugaskan di Statistical Research Group (SRG) yang mengerjakan proyek rahasia semacam Proyek Manhattan. Hanya saja yang dihasilkan bukan bom atom, tetapi sebuah persamaan. Salah pekerjaan mereka adalah meneliti jumlah pesawat tempur yang selamat kembali ke markas setelah pergi bertempur. Pada umumnya, jika tak ingin pesawat jatuh karena ditembaki peluru, kita akan memasang armor di pesawat. Tetapi terlalu banyak armor yang dipasang akan membuat bobot pesawat semakin berat dan menjadi tidak lincah dalam bermanuver. Bobot yang berat juga akan membuat pesawat semakin boros bahan bakarnya. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah, pasti ada titik optimum dari pemasangan armor di pesawat tempur.

Saat itu, militer juga memberikan data yang membantu SRG memecahkan masalah tersebut. Data yang diberikan adalah rata-rata jumlah lubang akibat tembakan musuh di badan pesawat yang kembali dari medan peperangan. Data tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa lubang terbanyak berada di posisi fuel tank, badan pesawat, dan terakhir paling sedikit berada di bagian mesin. Dengan melihat data tersebut, militer dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka dapat memasang armor sesuai dengan lokasi yang sering tertembak tanpa perlu memasang armor di seluruh bagian pesawat sehinggia membuatnya menjadi berat. Mereka juga berkesimpulan bahwa harus menambah armor di bagian tangki pesawat, bagian yang paling banyak mendapat tembakan.

Kesimpulan di atas nampak masuk akal bukan? Bagian yang sering tertembak lah yang harus dilindungi dengan diperkuat armor. Tetapi saat itu, Wald tak setuju. Dia berpendapat sebaliknya, pasanglah armor di bagian yang paling jarang tertembak yaitu mesin. Ia memperoleh kesimpulan seperti ini karena data tersebut diambil dari pesawat yang berhasil kembali ke markas. Data tersebut tidak mencakup pesawat yang tidak berhasil kembali ke markas alias jatuh. Bagian vital dari pesawat yang membuatnya dapat kembali selamat ke markas tentu adalah mesinnya.

Analogi di atas kurang lebih seperti korban luka tembak ketika peperangan. Korban luka tembak di bagian kaki lah yang paling banyak dirawat di rumah sakit karena korban luka tembak di dada tentu tak akan selamat. Oleh karena itu armor didesain untuk bagian perut dan dada. Fenomena inilah yang disebut survivorship bias.

Survivorship bias adalah kesalahan logika akibat terlalu berkonsentrasi kepada mereka/hal yang “selamat” dengan meniadakan penelitian lebih lanjut dari mereka/hal yang “tak selamat”. Wald yang tentu pengalamannya di bidang pesawat tempur kalah jauh dengan militer berhasil untuk tak terjebak survivorship bias.

Paper mengenai cerita pesawat tempur ini dapat dilihat di link ini

Sumber :

Jordan Ellenberg. How Not To Be Wrong: The Power of Mathematical Thinking.  Penguin Press. 2014

 

Gunung Ceremai via Linggarjati

Setelah sekian lama hanya dalam lamunan, akhirnya terwujud juga keinginan saya untuk mendaki gunung Ceremai yang berdiri kokoh di kabupaten Kuningan – Cirebon. Gunung ini merupakan tertinggi di Jawa Barat, sekitar 3078 mdpl, hutannya masih asri karena statusnya yang Taman Nasional. Sebenarnya terdapat dua jalur lain yang dikenal untuk mendaki gunung ini yaitu jalur Palutungan (Majalengka) dan Apuy. Kata catper-catper yang ada di internet, jalur Linggarjati terkenal paling berat, saya pikir mungkin mirip-mirip lah dengan jalur Cikuray. Setelah turun dari gunung ini, ternyata mereka itu jujur!

Stasiun Prujakan

Stasiun Prujakan

Perjalanan bersama DeBOP dimulai dari stasiun Pasar Senen. Tim kami berjumlah 20 orang, jujur baru kali ini saya mendaki bersama 19 orang. Biasanya juga paling banyak sekitar 7 atau 8 orang (sebelum bersama DeBOP :p). Kami naik kereta api Bogowonto jam 21.55, sampai di Cirebon Prujakan sekitar jam 1 malam. Dari sana lanjut dengan angkot carteran ke arah Linggarjati. Karena jalan raya di tengah malam sepi, stasiun Prujakan ke pos Linggarjati tak sampai satu jam. Setelah mengurus pendaftaran di pos Linggarjati, kami langsung naik menuju pos pertama, pos Cibunar (750 mdpl). Jujur saya tak terbayang pemandangan apa yang ada diantara pos Linggarjati ke Cibunar karena jalanan gelap. Jalanan masih berupa aspal, awalnya landai, sampai berbelok melipir ke kanan lalu bertemu dengan belokan menanjak berbentuk “S” kemudian diikuti dengan tanjakan panjang hingga bertemu dengan gapura pos Cibunar. Di pos Cibunar ada beberapa bangunan dan warung. Vegetasinya berupa hutan pinus. Ada WC umum juga dengan fasilitas seadanya. Kami numpang tidur sambil menunggu pagi di mushola yang terletak di ujung pos, bersebelahan dengan sebuah pohon besar yang bikin saya merinding setiap melihat (bahkan mengingatnya ketika mengetik ini :o). Belakangan saya baru tahu bahwa ada 3 pocong penghuni sekitar pohon itu, itu kata mamang penjaga pos Linggarjati setelah saya turun Ceremai. Diceritakan setelah saya menyantap mie rebus telor plus sebatang sampoerna mild.

cibunar 1

Sabtu pagi, kami mulai berangkat, Cibunar tempat terakhir untuk mengambil air (belaknagan saya baru tahu bahwa di atas masih ada air). Kami mulai naik sekitar pukul 7.30. Pos selanjutnya adalah pos Leweung Datar (1.225 mdpl), tapi menurut GPS-GPSan (baca: apps OruxMap) yang saya bawa, jaraknya lumayan jauh. Mungkin sekitar satu jam. Jalur Cibunar – Leweung Datar didominasi oleh kebun kopi dan semak-semak kebun tumpang sari. Tanjakannya masih landai, malah lebih mudah jika dibandingkan dengan Cikuray. Pokoknya walau trek Cibunar – Leweung Datar tergolong jauh, tapi masih bisa happy lah. Waktu itu kami juga tidak terlalu buru-buru karena menunggu 3 orang teman kami yang mengambil sarapan di pos Linggarjati. Sembah sujud lah buat kekuatan Chandra, Eja, dan Masdan yang mampu membawa puluhan nasi bungkus + belasan botol air mineral di kerilnya.

Leweung Datar

Para Tersangka, Foto di Leweung Datar

Kami sarapan di pos Leweung Datar, saya lupa saat itu jam berapa, mungkin sekitar jam 10an pagi. Akhirnya lanjut jalan. Pos selanjutnya adalah pos Condang Amis (1.250 mdpl), jarak Leweung Datar – Condang Amis jauh lebih dekat ketimbang Cibunar – Leweung Datar. Di pos Condang Amis ada bangunan mirip seperti pangkalan ojek. Ada bekas api unggun yang tidak dibersihkan di dalam pos itu. Disekitarnya ada tanah lapang yang mungkin muat untuk 5-6 tenda, dan terakhir, juga ada pohon besar yang bikin bergidik ngeliatnya :|. Kenapa bergidik ngeri? Karena setelah turun saya baru dikasih tahu sama Mamang kalau di Pos itu pernah ada yang diganggu maung KW super made in alam ghoib.

Pos Condang Amis

Pos Condang Amis

Setelah pos Condang Amis, adalah pos Kuburan Kuda (1.450 mdpl). Saya ndak ngerti kenapa namanya mesti “Kuburan Kuda”. Dari Condang Amis ke Kuburan Kuda jaraknya lumayan jauh. Pos Kuburan Kuda tidak ada apa-apa, hanya tanah kosong yang muat sekitar 4-5 tenda ukuran 2-3 orang. Pos ini yang paling berkesan buat saya karena ketika turun di pos ini, saya melihat kobaran api yang mendadak menyala di arah trek turun, lalu setelah disorot beberapa detik dengan menggunakan headlamp, eh api itu hilang begitu saja. Awalnya saya pikir itu pendaki yang membawa obor. Tapi kata Mamang (ah lagi-lagi Mamang bikin saya takut), itu Banaspati (silahkan googling kalau mau tau itu makhluk apa).

Setelah Kuburan Kuda, ada pos Pangalap (1.650 mdpl). Jaraknya juga lumayan jauh. Sampai di Pangalap kami istirahat untuk makan siang. Pos Pangalap berupa tanah lapang yang lebar dan datar. Baik sekali untuk dijadikan camp tetapi tempat ini mempunyai ketinggian yang lumayan rendah jika anda berniat untuk pergi ke Puncak. Setelah Pangalap, ada pos Tanjakan Seruni (1.825 mdpl). Ya, seperti nama posnya, benar ada tanjakan di sana. Lebih detail lagi, tanjakan yang paling seru berada setelah pos Tanjakan Seruni. Tanjakannya komplit deh. Ada yang pakai akar, atau yang mulus tanah saja. Bisa pilih tergantung selera. Mungkin yang pakai sepatu yang kurang grip, bisa pilih menu tanjakan plus akar. Saya lupa berapa tanjakan yang lumayan heboh di setelah Tanjakan Seruni.

Setelah pos Tanjakan Seruni, dan beberapa tanjakan yang entah berapa jumlahnya yang lumayan bikin haus, akhirnya kami sampai di favorit saya, pos Bapa Tere! (2.025 mdpl). Mengapa menjadi paling favorit? Bahkan teman se-tim kami, kalau ada yang menyebut Bapa Tere, mereka langsung ketawa. Ya karena di pos ini, ada satu tanjakan yang lumayan bikin ampun. Dengkul bertemu dengan Dada bahkan Dagu. Besar sekali pahala orang yang memasang webbing di tanjakan setelah pos Bapa Tere. Jasa kalian sangat besar. Amal jariah itu. Mungkin levelnya sudah mirip pahala mewakafkan tanah untuk kuburan umum. Entah berapa orang yang sudah dimudahkan jalannya karena tali webbing itu. Rasanya saya ingin mentraktir beberapa bungkus rokok ke orang itu.

Bapa Tere

Bapa Tere

Ternyata tidak hanya disitu saja, setelah tanjakan Bapa Tere, masih ada lagi tanjakan-tanjakan lain. Setelah pos Bapa Tere adalah pos Batu Lingga (2.250 mdpl). Namun kami tak sampai di Batu Lingga, hanya beberapa puluh meter sebelum pos Batu Lingga karena hari sudah gelap. Tepat di pos Batu Lingga, menurut Eja sudah penuh dengan beberapa tenda. Memang pos Batu Lingga sempit. Hanya bisa menampung 4 tenda sementara kami perlu ruang untuk 7 tenda. Akhirnya kami camp diantara Bapa Tere – Batu Lingga, tetapi hanya sekitar 5 menit dari Batu Lingga. Disini kami menemukan tanah lumayan datar dan cukup luas untuk mendirikan tenda. Tak banyak kegiatan malam itu karena mungkin semuanya sudah pada capek setelah menikmati Tanjakan Seruni dan Bapa Tere. Saya pun makan malam di dalam tenda, sudah malas keluar tenda karena mulai terasa dingin. Pelajaran dari Cikuray sangat berharga karena di sana saya pernah terkena serangan dingin mendadak hingga gemetaran. Jadi saya tak mau cari penyakit dan langsung masuk ke sleeping bag. Tidur lumayan nyenyak dan lama. Mungkin saat itu menjadi tidur terlama saya ketika tidur di tengah gunung. Kira-kira saya tidur jam 9 malam, dan bangun sekitar jam 5. Wah, serasa tidur di kasur saja. Tetapi sesekali terbangun karena ada pendaki yang lewat (karena kami mendirikan tenda tepat di pinggir jalur) sembari mengucapkan “Assalamualaikum!” setengah berteriak. Dan saya juga mendengar derap langkahnya. Lumayan, kali ini tidak ada gangguan seperti yang saya alami di Merbabu karena ada yang “grasak-grusuk” di luar tenda :|

camp

Rencana awal tim kami adalah naik via Linggarjati, dan turun via Palutungan. Konsekuensinya adalah kita harus bawa keril hingga ke puncak, lalu memutari kawah, lalu turun. Dengan rencana sedemikian rupa, kami pun sepakat untuk tak mengejar sunrise. Jadi berangkat ke puncak santai saja. Kira – kira jam setengah 8 pagi, kami mulai jalan lagi. Pos Batu Lingga lewat karena hanya beberapa menit saja dari tempat camp. Setelah pos Batu Lingga, ada pos Sangga Buana 1 (2.500 mdpl) dan Sangga Buana 2. Kali ini saya berjalan di deretan terdepan dari tim. Tentu yang paling depan saat itu adalah Eja yang tau-tau sudah hilang di depan mata. Saya jalan bersama 5 orang lainnya, Didit, Dhani, Dika, Farah, dan Vindy. Sisanya ada di belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Setelah pos Sangga Buana 2, ada pos Pangasinan (2.800 mdpl). Pos ini adalah pos terakhir sebelum ke puncak. Dari pos Pangasinan, kita bisa melihat penampakan gunung Slamet di Purwokerto Jawa Tengah. Vegetasi di sini pun sudah didominasi oleh tanaman semak dan pohon yang pendek. Oleh karena itu, jalur Pangasinan – Puncak sangat panas di siang hari. Belum lagi banyak trek tanjakan berbatu dan berpasir berdebu. Jarak Pangasinan ke Puncak menurut papan “hanya” 800 meter. Menurut saya, dari semua jalur di Linggarjati, Pangasinan – Puncak inilah yang paling bikin merana. Mungkin karena kita melewati jalur itu ketika hari mulai siang sambil bawa keril plus persediaan air yang kurang.

puncak

Kira – kira adzan Dhuhur, dengan jalan sambil tergopoh-gopoh membawa beban, akhirnya kami berenam sampai di Puncak Ciremai (Puncak Panglongokan 3027 mdpl). Eja malah sudah mulai turun karena salah satu teman kami, Cila tak melanjutkan perjalanan ke puncak yang berarti kami harus turun lagi lewat Linggarjati. Puncak Panglongokan hanya berupa tanah sempit, langsung mepet jurang kawah Ceremai. Lumayan bikin ngeri kalau duduk di pinggir jurang. Rupanya pengurus Taman Nasional Gunung Ceremai juga memperhatikan hal ini dengan menuliskan “Awas Terpeleset” di papan penunjuk Puncak Panglongokan sebanyak dua kali. Memang, kalau dilihat jika terpeleset ke sana, game over.

Kawah

Kawah Ceremai

Akhirnya kami santai-santai di puncak. Saat itu siang bolong, langit sedang cerah dan terik. Saya sempat saja berteduh sambil leyeh – leyeh di semak sembari menunggu rombongan belakang tiba. Ternyata mereka tiba dengan tidak membawa keril (karena sudah tau akan turun lewat Linggarjati lagi). Ah, tahu begitu saya pun tak akan bawa keril sampai ke atas. Rombongan belakang tiba sekitar setengah 1 siang. Akhirnya kami duluan turun ke bawah. Saya dengan Oki berdua sampai juga di Sangga Buana 2, tempat mereka menaruh keril di sana. Awalnya saya, Oki, dan Indra turun. Di pos Sangga Buana 1 kami bertemu Cila dan Chandra. Akhirnya kita turun berlima. Termasuk rombongan yang turun duluan dengan persediaan air hanya seperempat botol 1.5 liter untuk berlima, dengan satu orang sakit. Belakangan Oki juga muntah-muntah setelah pos Batu Lingga. Kami dengar kabar bahwa bakal ada Ranger yang membawakan air dari bawah. Inilah harapan kami. Ekspektasi kami sih bakal ketemu Ranger tsb di Pangalap.

Target turun saat itu tak muluk-muluk, minimal jangan sampai keburu gelap ketika melewati Bapa Tere dan Tanjakan Seruni. Beruntung ketika lewat sana, masih terang sore hari. Ketika menjelang Pangalap, baru malam tiba. Di Pangalap kami bertemu rombongan dari Cirebon. Lumayan, kami mendapatkan sebotol air minum dari mereka. Mudah-mudahan perjalanan mereka dimudahkan. Setelah lewat Pangalap, akhirnya sampai di Kuburan Kuda. Saat itu sekitar jam 7 atau setengah 8 malam. Masih belum bertemu dengan Ranger yang berangkat dari bawah. Tetapi di pos Kuburan Kuda, kami bertemu lagi dengan rombongan 3 orang dari Cirebon. 2 orang mbak-mbak dan seorang mas yang baru saya tahu belakangan kalau dia itu ternyata salah satu Ranger pos Linggarjati. Di sini Cila diberikan oralit rasa jeruk (belakangan saya minum juga ini karena keburu haus) oleh mbak-mbak dan mas tadi. Nah, di pos inilah, saya melihat kobaran api di semak-semak. Saya kira di sana ada orang yang mendaki dengan membawa obor. Saat itu saya ngomong ke yang lain, itu api apa ya. Tapi Mas ranger itu hanya diam melihat api itu. Menyorot api itu dengan menggunakan senternya. Eh lama-lama api itu hilang begitu saja. Tak ada orang sama sekali. Karena masih di tengah hutan, saya ga mau berpikiran aneh-aneh saat itu. Tapi harus saya ingat dan saya tanya ke Mamang di Linggarjati. Menurut beliau, itu Banaspati. Dan bisa berbentuk bola api, lalu mengganggu :|

Setelah itu lanjut jalan. Kecepatan jalan kami melambat. Oki dan Masdan (yang tau-tau nongol di Tanjakan Seruni) sudah berangkat duluan ke bawah. Mereka mau lari katanya, mungkin sudah ngebet dengan es teh manis di warung. Akhirnya kami bertemu ranger, saya lupa lokasi persisnya di mana, mungkin setelah lewat Condang Amis, sebelum Leweung Datar. Kami mendapatkan sebotol air minum lagi dari mereka. Mungkin mereka tahu sumber mata air lain karena nampaknya mereka menghabiskan persediaan airnya untuk kami. Setelah itu, saya mulai terasa capek. Kaki saya sudah lemas. Akhirnya kami sampai di Cibunar pukul 10 malam lewat. Apa yang saya lakukan ketika sampai di Cibunar? Tak banyak omong, langsung taruh keril di dekat gapura, lalu jalan ke WC, ambil air di kerannya, lalu saya teguk air itu persis di depan pintu WC. Ternyata cuma setengah botol 1.5 liter yang membuat saya kenyang minum :). Tak lupa saya isi penuh kembali botol itu untuk 2 yang lain.

Sembari menunggu rombongan belakang tiba, kami masak air, minum milo, saya sempat merokok sebatang, cerita-cerita, tapi hawa lumayan dingin. Mendadak datang sebuah motor dari bawah, ternyata salah satu Ranger dari Linggarjati yang ingin konfirmasi apakah perlu Vindy dijemput berhubung lokasi terakhirnya di sekitar kebun kopi. Pertimbangannya, ranger yang membawa air tadi sudah bertemu dengan rombongan belakang di Pangalap. Dipikir-pikir, kita sama sekali belum makan sejak siang. Jadi saya ikut turun ke Linggarjati numpang dengan Aa’ tadi, saya dipinjami motor untuk cari makanan buat yang lain. Untuk ga terlalu jauh, di pertigaan Linggarjati – Jalan Raya Kuningan masih ada tukang nasi goreng yang jualan. Padahal seingat saya saat itu jam setengah 2. Mungkin aa’ penjual nasi goreng ini bingung. Ada orang berjaket dan berkupluk, dengan muka lelah, mata sudah segaris, di tengah malam memesan 15 bungkus nasi goreng :|

Setelah beli nasi goreng, saya balik lagi ke Linggarjati, dan memutuskan untuk tinggal di pos Linggarjati saja dan tidur di sana. Saya tidur di mushola belakang hanya ditemani nyamuk-nyamuk yang kelaparan. Terus terang saya ndak bisa tidur saat itu. Jauh lebih nyenyak tidur di Batu Lingga ketimbang di sana. Setelah pagi yang cerah, saya puas makan mie rebus di warung emak, dan berjemur matahari pagi sambil merokok, wah nikmatnya. Sembari menunggu rombongan turun dari Cibunar, saya banyak mendengar cerita mistis dari Mamang di Linggarjati ini. Mulai dari tempat Wali ceramah, macan jadi-jadian, cara bedain macan jadi-jadian dengan macan betulan, makhluk yang bernama Banaspati, 3 Pocong di pohon pos Cibunar, sampai cerita dia jadi guide ke beberapa kelompok. Wah komplit lah, sampai ngantuk saya dengarnya.

Karena sudah ketinggalan kereta minggu malam, kami pulang naik kereta lewat stasiun Cirebon dengan Cirebon Ekspress. Sampai di Gambir sekitar setengah 7 malam. Dan saya sampai di Karawaci jam 9 malam karena Ibu Kota jam pulang kantor itu lebih kejam dari Ibu Tiri. Tapi masih lebih kejam lagi Bapa Tere.

—–

Terima kasih untuk Masdan, Didit, Vindy, dan Farah atas foto-foto trip Ceremai :)

Pikiran yang sedang terlewat

Tuhan lebih dekat di gunung daripada di masjid

Selamat mencari-Nya

Berhitung Pajak Penghasilan versus Subsidi Biaya Kuliah

Post ini terinspirasi dari sebuah post tumblr milik Zetra yang berbicara tentang bakti sosial yang sering kita (baca: anak ITB) lakukan sebagai bentuk terwujudnya poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Banyak argumen yang terlontar tentang ini. Salah satunya kita harus adakan bakti sosial yang sesuai dengan bidang (baca: jurusan) kita. Apakah benar itu sebagai bentuk perwujudan poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi? Entah lah.

Terlepas dari adanya poin ketiga tersebut, sebuah kegiatan yang bertajuk “mahasiswa harus berguna untuk masyarakat sekitarnya” harus dilakukan karena kita kuliah di kampus yang biaya operasionalnya sebagian berasal dari subsidi negara. Uang subsidi itu bisa jadi datang dari bapak-bapak penyapu jalan, kasir minimarket, atau dari cukai rokok mas-mas yang sering nongkrong di pinggir jalan. Atau bahkan datang dari pajak penghasilan alumni kampus yang dulunya hanya kuliah-pulang-kuliah-pulang yang mungkin tak pernah ikut sama sekali dalam acara bakti sosial tadi? Siapa tahu!

Kemudian saya jadi terpikir, apakah mampu uang pajak penghasilan si mahasiswa kupu-kupu itu mampu “membalas” subsidi negara yang telah diberikan selama dia belajar di kampus? Kalau mampu, berapa lama? Inilah yang kemudian membuat saya tertarik untuk segera membuat modelnya.

Secara gambaran kasar, model yang saya buat kira – kira memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi sarjana untuk membayar kembali uang subsidi yang negara berikan selama ia kuliah hanya dengan pajak penghasilannya setelah ia bekerja. Saya membuat italic pada kata “hanya” karena tentu banyak hal yang bisa diberikan oleh seorang sarjana kepada negara. Sebut saja kontribusi peningkatan GDP di luar pajak karena hasil kerja sarjana di berbagai bidang industri, atau mungkin sarjana mampu mengurangi jumlah pengangguran karena ia membuka usaha baru. Oke, kita kesampingkan terlebih dahulu “kontribusi” sarjana yang seperti ini karena model perlu asumsi dan batasan :)

Sebelum membuat model tersebut, saya perlu mencari asumsi yang saya butuhkan seperti inflasi tahunan, komponen subsidi dan biaya kuliah sampai lulus sarjana, hingga lama belajar di universitas, dan lama menganggur. Belakangan saya perlu menambahkan asumsi kapan si sarjana mulai menikah dan punya anak karena dalam pajak penghasilan berlaku Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) karena sedikit banyak, PTKP mempengaruhi berapa besar pajak yang harus dibayar. Selain hal tersebut di atas, saya juga perlu membuat asumsi berupa berapa gaji pertama si sarjana, dan besar kenaikan penghasilannya setiap tahun. Tentu di dalam gaji, banyak komponennya seperti bonus, kenaikan gaji karena transfer, pengurangan gaji, dll. Hal ini saya eliminasi dengan asumsi gaji yang diterima adalah gaji pokok yang terkena pajak.

Selain itu, saya juga menambahkan faktor mortalitas ke dalam model yang saya buat. Kalau melihat rata-rata umur masuk S1 pada kisaran 18 hingga 21 tahun, sepertinya faktor mortalitas tak terlalu banyak berpengaruh. Namun saya tetap menggunakannya. Hitung-hitung latihan buat saya untuk membuat model asuransi :D.

Untuk asumsi besaran subsidi, inilah yang sulit dicari. Saya belum menemukan dokumen resmi yang menjelaskan persisnya berapa besar subsidi yang diterima setiap mahasiswa dalam satu tahun. Untuk hal ini saya mengakalinya dengan cara mencari unit cost dari satu mahasiswa per tahun, dikurangi dengan uang kuliah yang dibayarkan. Mengenai unit cost, saya menggunakan besaran Rp50,000,000 per tahun dikurangi dengan APBN (asumsikan ini subsidi pemerintah), kas ITB, dll sebesar Rp30,000,000 sehingga tersisa Rp20,000,000 sesuai dengan yang tertulis pada milis alumni ini. Sehingga secara garis besar, saya ingin mencari berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk “mengembalikan” uang Rp30,000,000 per tahun selama si sarjana tersebut menjadi mahasiswa.

Mengenai asumsi inflasi, saya menggunakan asumsi inflasi konstan di posisi 8% per tahun. Sedangkan cara menghitung pajak penghasilan, saya mengikuti cara pada link ini.

Berikut beberapa hasil yang saya peroleh (Breakeven dalam tahun lama bekerja) :

test

Lama sekali bukan? Itupun dengan asumsi yang menurut saya sedikit lebay karena dalam prakteknya sulit mendapatkan kenaikan gaji 15% per tahun (curhat). Jika model yang saya buat ini tepat (terlepas banyak terjadi simplifikasi di sana-sini), maka kita harus memikirkan cara lain untuk mengembalikan uang tersebut. Perhitungan di atas berdasarkan konsep uang kuliah tunggal yang mulai berlaku di tahun 2013/2014. Tahun 2008, ketika saya masuk ITB, bagi yang lulus USM wajib membayar uang di awal sebesar minimal Rp45,000,000,- tentu ini akan membuat “pengembalian” semakin cepat karena porsi subsidi berkurang.

Dan sekali lagi, kontribusi sarjana tak hanya di pajak penghasilan saja seperti yang saya sebut di atas. Mohon caci maki kritik dan sarannya untuk memperbaiki model yang saya buat :). Terakhir untuk bahan mengeles, saya teringat dengan quotes dari salah satu statistikawan idola saya, George E.P Box

“Essentially, all models are wrong, but some are useful”

George E.P Box (1919 – 2013)

Perkalian ala Orang Jepang

Kalau saya sedang bosan, biasanya saya langsung membuka aplikasi StumbleUpon di Android, lalu buka topik “Mathematics”. StumbleUpon memang bisa saja membuat saya amazed karena selalu saja ada hal yang baru. Salah satu hal yang baru bagi saya adalah perkalian ala Jepang.

Apa yang kita lakukan jika bertemu soal perkalian sederhana 12 x 23 ? Tentu pembaca (yang mungkin mayoritas dididik dengan menggunakan sistem pendidikan Indonesia) akan melakukan perkalian seperti di bawah ini :

Image

Pernah disalahkan guru karena tidak mengerjakan dengan cara seperti ini?

Apakah cara yang diajarkan di atas adalah satu-satunya cara? Tentu saja tidak, masih banyak cara lain. Mari kita lihat bagaimana Jepang mengajarkan anak-anaknya perkalian. Hmmm ternyata sedikit berbeda. Inilah yang mereka tulis ketika bertemu soal tersebut :

Image

Gambar seperti inilah yang harus dibuat (sulit menggambar dengan menggunakan trackpad)

 

Jadi apa maksud dari gambar garis-garis di atas? Garis dikelompokkan dalam dua warna, saya buat merah dan biru agar memudahkan meskipun pada prakteknya warna tak perlu berbeda, yang penting mempunyai kemiringan yang sama dan saling sejajar. Kelompok pertama (merah) adalah representasi dari bilangan 12. Ada 1 buah garis merah, dan 2 buah garis biru. Urutan disini penting. Tulislah dari atas ke bawah (mengapa harus begini? nanti akan terjawab). Kelompok kedua (biru), adalah representasi dari bilangan 23, yaitu 2 garis, dan 3 garis yang ditulis dari bawah ke atas. Oke, ini mudah, hanya perkara menggambar garis sejajar saja :)

Selanjutnya, perhatikan titik potong yang terjadi dari garis-garis sejajar tersebut

Image

Kalau melihat angka-angka yang tertera, merasa familiar dengan cara perkalian standar?

Hitung jumlah titik potong yang terjadi dari garis-garis sejajar di atas. Ya, di bagian kiri, terjadi dua titik potong. Pada bagian tengah, ada tiga dan empat titik potong, serta bagian paling kanan ada enam titik potong. Sekarang mari kita lihat bagaimana hasil perkaliannya. Caranya, bagian paling kanan, adalah representasi dari satuan, yaitu 6. Di tengah, ada 3 dan 4, jumlahkan kedua bilangan tersebut sehingga kita dapat 7 sebagai puluhan. Dan terkahir di bagian paling kiri, 2 sebagai ratusan. Sehingga kalau dijumlahkan, kita akan memperoleh hasil 276

Image

 

Pertama kali saya tahu cara perkalian seperti ini, saya langsung mencoba-coba berbagai soal perkalian. Excited seperti anak yang baru belajar perkalian. Cara seperti ini mudah untuk perkalian dengan jumlah digit yang sama, dan angka satuan yang kecil (mungkin tak lebih dari 5) karena repot sekali jika harus membuat 9 garis untuk menghitung 29 x 91 atau 399 x 222. Anda bisa mencobanya sendiri di rumah.

Cara seperti ini intinya sama dengan cara “biasa” yang saya terangkan di awal. Hanya saja cara ini lebih mengedepankan visualisasi. Penggunanya hanya menghitung berapa jumlah titik yang terjadi akibat perpotongan dua kelompok garis sejajar tersebut.

Partai Golput Nyatakan Kemenangan, Siapkan Calon Presiden

Originally posted on POS RONDA | Indonesia's Political Infotainment:

Bendera putih, simbol dan ikon yang menjadi andalan simpatisan Partai Golput. (photo courtesy of islamedia.web.id

Bendera putih, simbol dan ikon yang menjadi andalan simpatisan Partai Golput. (photo courtesy of islamedia.web.id

JAKARTA, POS RONDA – Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah melangsungkan pemilihan umum legislatif kemarin (9/4). Pemungutan suara dilangsungkan di seluruh Indonesia semenjak pagi hari dan berakhir pada pukul 13.00 WIB. Hasil penghitungan cepat (quick count) dari pemungutan suara kemudian disampaikan oleh berbagai lembaga survei dan partai politik, termasuk POS RONDA yang bekerja sama dengan lembaga survei dan penghitungan global, Monte Cristo Counting (MCC).

Konsensus tidak tertulis dalam hasil penghitungan cepat yang dilakukan oleh berbagai survei menempatkan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP) sebagai pemenang pemilu, Partai Golkar di urutan kedua, dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di tempat ketiga. Persaingan ketat terjadi antara Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang bergantian menempati peringkat 4 dan 5 tergantung dari hasil quick count dari lembaga yang mengeluarkan datanya.

Penghitungan cepat yang dilakukan oleh POS…

View original 524 more words

Tentang Kausalitas dan Korelasi

Kausalitas menurut KBBI adalah perihal sebab-akibat. Contohnya jika saya sengaja membenturkan kepala ke tembok, akibatnya kepala saya akan sakit dan mungkin benjol. Suatu hal “penyebab” diikuti dengan “akibat”. Bagaimana dengan korelasi? Korelasi -sekali lagi- menurut KBBI adalah hubungan timbal balik atau sebab akibat. Lah lalu apa bedanya? Ternyata kedua hal ini berbeda sama sekali.

Saya berikan suatu ilustrasi yang saya peroleh dari kuliah online Mikroekonomi via YouTube. Di suatu negeri antah berantah, terdapat suatu desa yang sedang diserang pandemi suatu penyakit, kolera misalkan. Tentu pemerintah tak mau tinggal diam melihat rakyatnya satu per satu jatuh sakit karena kolera. Akhirnya pemerintah berinisiatif mengirimkan banyak dokter ke desa yang semakin banyak kasus koleranya. Namun sejak hari pertama hingga hari ke tujuh, ternyata wabah kolera semakin melebar. Pemerintah mengirimkan lagi banyak dokter ke desa tersebut. Warga mulai merasa adanya suatu pola di sana yaitu mengapa semakin banyak dokter yang dikirim, justru penyakit tersebut semakin melebar? Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa dokter lah penyebab dari meluasnya kolera tersebut. Dari cara pengambilan kesimpulan demikian, mungkin yang terjadi selanjutnya adalah keadaan desa semakin rusuh, mereka mengusir para dokter satu per satu karena dianggap sebagai biang keladi dari bencana yang menimpa desanya.

Menarik bukan? Satu hal yang dapat dipahami dengan mudah adalah warga tak mampu membedakan mana yang berkorelasi dan mana yang merupakan suatu kausalitas. Jumlah dokter dengan jumlah kasus kolera mungkin berkorelasi secara positif atau searah. “Searah” dalam hal ini bisa dikatakan jumlah dokter meningkat diiringi oleh jumlah wabah kolera ATAU jumlah wabah meningkat diiringi dengan jumlah dokter. Tapi tak bisa diambil kesimpulan bahwa Dokter menyebabkan kolera. Atau mungkin jumlah wabah kolera yang menentukan banyaknya dokter?

Kesalahan berpikir ini sering sekali saya temukan (dan mungkin saya juga pernah melakukannya) saat sedang menguji suatu model dari banyak variabel. Misalkan besarnya klaim asuransi kendaraan bermotor dapat bergantung pada harga kendaraan, daerah pemakaian kendaraan, jenis kelamin dari si pengendara, tahun pembuatan kendaraan, dan lain-lain. Saya uji korelasi antar variabel-variabel tersebut. Misalkan saya menemukan hasil bahwa besarnya klaim asuransi kendaraan bermotor berkorelasi positif (atau searah) terhadap variabel jenis kelamin wanita, daerah pemakaian kendaraan dan berkorelasi negatif dengan harga kendaraan dan tahun pembuataan kendaraan. Kita mengira-mengira apakah data menunjukkan hasil yang make sense atau tidak karena model yang dibuat akan menjadi useless jika tidak sesuai dengan realita. Contoh, besarnya klaim berkorelasi negatif dengan harga kendaraan bermotor. Ini sedikit aneh karena besarnya harga pertanggungan selalu mengikuti besarnya klaim yang terjadi. Bisa juga dikatakan pemilik kendaraan yang harganya mahal menjadi lebih hati-hati dalam mengendarai kendaraannya sehingga klaim menjadi sedikit. Siapa tau? Perlu penelitian lebih lanjut. Begitu juga dengan pertanyaan apakah benar para wanita selalu menimbulkan klaim lebih besar daripada pria?

Pemilihan legislatif sebentar lagi akan dimulai. Sebelum itu dimulai, saya banyak melihat grafik tentang partai mana yang paling banyak korupsinya bertebaran di berbagai sosial media. Dari berbagai sumber tersebut, saya menangkap adanya pola bahwa urutan teratas partai yang paling banyak korupsinya adalah partai yang paling banyak menempatkan wakilnya di DPR. Karena saya tidak mempunyai data untuk menguji seberapa valid pola yang saya sebut di atas, maka tak banyak yang dapat di-hipotesis-kan. Juga menjadi suatu pertanyaan lagi adalah apakah penyebab korupsi dari suatu partai karena banyak wakilnya berada di parlemen? Pertanyaan ini menganggap hubungan banyak wakil – banyak korupsi menjadi kausalitas. Jika benar seperti ini, maka bisa jadi tak ada gunanya meraih dukungan dengan menyebarkan grafik tersebut :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.510 pengikut lainnya.